Aku rindu Surabaya, aku rindu ayahku dan aku rindu dia
Tuhan. Kenapa aku ada disini dan bukan di Surabaya bersama orang-orang yang aku
sayangi? Aku ingin kembali.
“Mas, besok kan udah libur semester lo mau nemenin gue ga
pergi ke suatu tempat?” aku bertanya pada Dimas yang sedang bermain game.
Hari ini cuacanya galau badai banget. Di luar hujan lebat
dan aku lupa bawa payung. Sementara teman-teman yang lain sudah pada nekat
pulang, aku malah masih betah berdiri di pinggiran perpustakaan ini sambil
menunggu hujan reda. Dingin brrrr!
Apalagi dari jendela aku bisa liat Ramzi sedang duduk di
perpustakaan sambil membaca novel. Dia terlihat sangat tampan saat seperti ini,
aku menahan kaki ini agar tidak masuk ke dalam dan menyapanya.
“Esta bangun dong! Woi bangun! Lo bisa telat ke sekolah
kalo ga bangun sekarang,” kata seseorang sayup-sayup di telingaku.
“Jam.. be..ya..pa seka..yang?” tanyaku dari balik
selimut. Mata ini terasa di lem, setelah tiga hari ikut MOS badan ini capeknya
beeuuh seperti ditimpa karung besi.
“Ah, lelah sekali rasanya! Aku ingin
pulang! Sekarang jugaaaaa!” gerutu ku dalam hati.
Aku dan teman-temanku sudah berdiri di
bawah terik matahari ini selama kurang lebih satu jam, dan hasilnya apa. Para
senior-senior itu hanya memandang kami dari bawah pohon. Mereka seakan menjemur
cucian di lapangan basket sekolah ini. Mungkin inilah yang namanya MOS versi
anak SMA Bhayangkari. Huh!
Bukan maksudku membiarkan dia berlalu
begitu saja. Hati ini selalu menjerit memanggil namanya, hanya saja dia yang
tak pernah berpaling dan menyambutku. Dia masih tetap dia. Dia masih seperti
yang dulu, yang pernah membuat hatiku membeku untuk waktu yang lama. Dia masih
seperti yang dulu, dan aku masih seperti yang dulu, kokoh dan dingin tanpa senyum ketika
berhadapan dengannya. Dia bagai batukarang yang setiap kali ombak datang hanya bisa diam di tempat menantang,
namun terus terkikis hingga hilang dan berlalu.
Kisah cinta romantis dengan pengorbanan besar
danketulusan cinta yang abadi.
Ringkasan cerita :
Indah dan Pandu pertama kali bertemu
di sebuah pedesaan yang dikelilingi kebun teh. Indah pergi berlibur disana dan
berkenalan dengan Pandu, seorang pria yang menderita kanker otak stadium akhir
yang telah menyentuh hatinya dengan ketulusan. Pandu ingin terus bersama Indah,
namun kebersamaan mereka hanya berlangsung 3 hari. Indah kembali ke Jakarta
kota asalnya, dan Pandu sendiri nantinya akan pergi ke Jakarta untuk
melanjutkan SMA nya disana. “Kalau kita berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi”
demikianlah Pandu berkata kepada Indah agar dia merasa yakin bahwa mereka
sebenarnya ditakdirkan bersama meskipun pada kenyataanya Indah telah memiliki
seorang kekasih bernama Ramon. Indah dan Ramon telah dijodohkan oleh kedua orangtua
mereka sejak kecil.
Suatu malam, Indah bertengkar dengan
Ramon. Pertengkaran ini adalah puncak dari kegelisahan Ramon karena Indah
ternyata selalu bersama dengan Pandu di sekolah. Setelah kepindahan Pandu ke
SMA itu, Ramon merasa Indah menjauh darinya. Malam itu, Indah mengalami
kecelakaan mobil yang menyebabkan dia buta dan bisu. Setelah kecelakaan itu,
Ramon menjauhi Indah. Sedangkan Pandu sulit mendekati Indah karena dia selalu
berusaha menutup dirinya.
Indah yang merasa depresi dan tertekan
dengan nasibnya memilih untuk menyendiri ke desa tempat dia pertama kali
bertemu dengan Pandu. Disana ia dirawat oleh temannya bernama Dita yang setia
menemaninya. Hingga akhirnya, Pandu pun memutuskan untuk kembali ke desa dan
menemani Indah juga. Mereka menghabiskan waktu bersama-sama demi mengurangi
kesedihan Indah. Dita yang mengetahui penyakit Pandu bekerjasama dengan Dimas
teman Pandu agar kebersamaan mereka dapat berlangsung lebih lama lagi.
Saat Indah dan Pandu pergi ke bukit,
Pandu merasa waktunya tidak akan lama lagi. Dia berkata kepada Indah, dia akan
menjadi mata untuk Indah agar dapat melihat dunia lagi. Indah yang meraung kuat
saat Pandu meninggal dunia di sisinya akhirnya mampu mengeluarkan suara dengan
memanggil nama Pandu berulang kali. Namun Pandu tetap tidak bergerak dan
menjawab. Pandu telah pergi ke dunia lain, dan meninggalkan matanya untuk Indah
agar mereka tetap bisa bersama meski jarak telah memisahkan. Akhirnya Indah
dapat tersenyum lagi dan melihat kembali dunia, dia tetap menyimpan kenangan bersama
Pandu di hatinya.
Tokoh/nama :
·Utama
1.Indah: Baik hati, murah senyum, lemah lembut,
penyayang dan lemah.
2.Pandu : Baik
hati, setia, penyayang, rela berkorban dan berjiwa besar.
3.Ramon : Kasar,
pemarah, tidak setia dan egois.
·Pembantu :
1.Mama Indah :
Keras kepala, egois dan penyayang.
2.Papa Indah :
Ringan tangan, pemarah dan pekerja keras.
3.Kakak Indah :
Keras kepala, penyayang dan mandiri.
4.Dita (Teman
Indah) : Baik, setia kawan, penyabar dan perhatian.
5.Dimas (Teman
Pandu) : Baik dan setia kawan.
Kritikan :
Dari keseluruhan film, saya merasa sudah cukup
baik. Nuansa romantis dan sedihnya mampu menggugah perasaan seakan itu terjadi
pada penonton sendiri. Namun, alur ceritanya sedikit membingungkan karena
keterkaitan antara peristiwa satu dan yang lainnya kurang jelas.Apabila peristiwa tersebut ingin ditampilkan
secara singkat, maka seharus ada narator yanag membacakan jalan ceritanya.
Once upon a time there was a sweet couple who love each
other very much. They lived in small village on the hill. They were not marry
yet. Because the girl’s family didn’t allow this girl marry with the boy. The
boy was from poor family and can’t made the girl happy for their life.
One day, after the boy got new better job. The boy asked the
girl to follow him to new town in overseas. But the girl was doubt. Then, she
asked the boy : “ How deep is your love for me?”
The boy just silence, he can’t answer the girl’s question.
He was not good in sweet words, but he tried to smile and confidently told
something to the girl.
“Actually, I can’t say anything for you about this love. I
can leave you alone here. Do you know because what? Because I’m scare you will
leave me after I say this sentences. Do you want to marry me?” said the boy
hopely.
The girl smiled and whispered to the boy’s ear. “I will
marry you after you come back,” said the girl and she leave the boy alone.