Total Tayangan Halaman

Jumat, 15 Februari 2013

Part 6 ~Maaf Atas Yang Terlewatkan~



Part 6

“Dimas, kamu lagi apa di dalam? Aku masuk ya,” aku sudah mengetok-ngetok pintu kamar, tapi Dimas tidak keluar juga.

“Esta, kamu ga boleh masuk kamar kakakmu kalau ga diizinin sayang,” teriak mama dari ruang tamu.

“Iya Ma! Aku cuma pengen ngambil novel aja kok bentar,” sahutku.


Rabu, 13 Februari 2013

Part 5 ~ Maaf Atas Yang Terlewatkan~



Part 5

“Woi! Lo kok bengong pagi-pagi gini, pasti lagi  mikirin gue kan. Kangen ya?” celoteh bella saat dia tiba di kelas pagi ini. Libur semester telah usai dan kami disibukkan kembali dengan kegiatan sekolah.

“Ramziiiiiii! Lo kok diem? Huu” dia merajuk.


Part 4 ~Maaf Atas Yang Terlewatkan~



Part 4

Aku rindu Surabaya, aku rindu ayahku dan aku rindu dia Tuhan. Kenapa aku ada disini dan bukan di Surabaya bersama orang-orang yang aku sayangi? Aku ingin kembali.

“Mas, besok kan udah libur semester lo mau nemenin gue ga pergi ke suatu tempat?” aku bertanya pada Dimas yang sedang bermain game.


Part 3 ~Maaf Atas Yang Terlewatkan~



Part 3

Hari ini cuacanya galau badai banget. Di luar hujan lebat dan aku lupa bawa payung. Sementara teman-teman yang lain sudah pada nekat pulang, aku malah masih betah berdiri di pinggiran perpustakaan ini sambil menunggu hujan reda. Dingin brrrr!
Apalagi dari jendela aku bisa liat Ramzi sedang duduk di perpustakaan sambil membaca novel. Dia terlihat sangat tampan saat seperti ini, aku menahan kaki ini agar tidak masuk ke dalam dan menyapanya.


Part 2 ~Maaf Atas Yang Terlewatkan~



Part 2

“Esta bangun dong! Woi bangun! Lo bisa telat ke sekolah kalo ga bangun sekarang,” kata seseorang sayup-sayup di telingaku.

“Jam.. be..ya..pa seka..yang?” tanyaku dari balik selimut. Mata ini terasa di lem, setelah tiga hari ikut MOS badan ini capeknya beeuuh seperti ditimpa karung besi.


Part 1 ~Maaf Atas Yang Terlewatkan~



Part 1

“Ah, lelah sekali rasanya! Aku ingin pulang! Sekarang jugaaaaa!” gerutu ku dalam hati.
Aku dan teman-temanku sudah berdiri di bawah terik matahari ini selama kurang lebih satu jam, dan hasilnya apa. Para senior-senior itu hanya memandang kami dari bawah pohon. Mereka seakan menjemur cucian di lapangan basket sekolah ini. Mungkin inilah yang namanya MOS versi anak SMA Bhayangkari. Huh!


Prolog ~Maaf Atas Yang Terlewatkan~



Maaf, Atas Yang Terlewatkan

Prolog ~

Bukan maksudku membiarkan dia berlalu begitu saja. Hati ini selalu menjerit memanggil namanya, hanya saja dia yang tak pernah berpaling dan menyambutku. Dia masih tetap dia. Dia masih seperti yang dulu, yang pernah membuat hatiku membeku untuk waktu yang lama. Dia masih seperti yang dulu, dan aku masih seperti yang dulu,  kokoh dan dingin tanpa senyum ketika berhadapan dengannya. Dia bagai batu  karang yang setiap kali ombak datang hanya bisa diam di tempat menantang, namun terus terkikis hingga hilang dan berlalu.